Secara umum, rumah adalah tempat bernaung bagi manusia, tempat berkumpulnya sebuah keluarga, tempat beristirahat setelah kita beraktivitas mencari penghidupan. Rumah juga melindungi kita (manusia) dari hujan, panas, dsb. Singkatnya, rumah merupakan kebutuhan primer seperti halnya juga sandang dan pangan.
Dalam perspektif Jawa atau Orang Jawa, rumah memiliki makna yang lebih dari sekedar tempat bernaung dan berkumpulnya keluarga. Yakni bahwa rumah yang dalam bahasa jawa di sebut Wisma, merupakan symbol harkat, martabat, dan juga kesempurnaan sebagai manusia, khususnya bagi kaum Adam atau Laki-lakinya. Hal ini bisa terungkap dalam falsafah dimana seorang laki-laki Jawa menjadi sempurna ketika sudah memiliki : wisma, wanodya, turangga, curiga, dan kukila. Wisma atau rumah disini yang dimaksud bukanlah (selalu) rumah yang mewah ataupun jumlah rumah yang banyak. Tetapi yang dimaksud adalah sarana untuk mengingatkan bahwa manusia juga akan kembali kerumah atau asal manusia, yaitu kepada Sang Pencipta (Tuhan). Karena menurut orang jawa : wong urip iku mung mampir ngombe (hidup manusia itu cuman mampir minum ) yang berarti orang hidup itu hanya sebentar seperti orang yang bertamu/mampir untuk minum menghilangkan rasa haus. Bahkan menurut ajaran Ki Ageng Suryomentaram, Kawruh Jiwa, di sampaikan bahwa cukupnya rumah adalah bisa sebagai tempat untuk berlindung dari panas dan hujan. Sebagaimana dalam filosofi “sabutuhe, sacukupe, saperlune, sabenere, samestine, sapenake”.
Dalam konteks inilah, pementasan Wayang Rumah oleh Ki Gundono menemukan relevansinya. Sebagai pengingat kepada kita semua untuk berkontemplasi dan merenung bahwa rumah bukan sekedar rumah secara fisik. Melainkan juga memiliki makna filosofis dan kejiwaan yang luhur bagi kita semua dalam memahami “Sangkan Paraning Dumadi “
Ki Kuwat Indriyanto
Ketua Harian Paguyuban MASTEJO
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar